This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Makalah Ilmu Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Ilmu Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 November 2019

Makalah Politik Luar Negeri Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada dasarnya politik luar negeri Indonesia senantiasa amat dipengaruhi oleh realitas politik domestik Indonesia. Di lain sisi situasi politik domestik Indonesia juga tidak dapat terlepas dari konstelasi politik global. Politik luar negeri indonesia bebas aktif pada era demokrasi liberal tentulah menjadi situasi politik yang menarik untuk dicermati. Pada masa era itu dimana Indonesia masih berupa bayi yang baru terlahir setelah sekian lama dikandung dalam situasi kolonialisme (penjajahan), harus menentukan sikap politik luar negerinya.

Dalam situasi ini tuntutan terhadap sebuah Negara yang baru merdeka seperti Indonesia untuk menentukan sikap dan posisinya dalam kancah politik Global. Sistem pemerintahan di Indonesia yang saat itu dapat kita katakan sebagai masa percobaan demokrasi, yang mana semenjak revolusi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, di tandai dengan polarisasi maupun fragmentasi politik di Indonesia yang di tandai dengan menjamurnya partai politik saat itu yang di bentuk oleh elit politik sebagai sarana pengejahwantahan kepantingan politik masing-masing. Bukti yang cukup kuat untk menegaskan situasi ini adalah situasi politik domestik yang tidak stabil dan sering bergantinya pimpinan pemerintah dalam hal ini perdana menteri beserta kabinetnya yang setiap masa kepemimpinannya selalu mengutamakan kepentingan atas ideologi maupun partainya.

Silih bergantinya kabinet ternyata berdampak pada pola kebijakan luar negeri Indonesia. Politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif pun tetap bertendensi sesuai kepentingan pemimpin pemerintahan saat itu. Hal ini dapat dilihat pada kedekatan cabinet tertentu dengan salah satu blok baik itu barat maupun timur. 

BAB II
PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang di atas maka ditemukan beberapa masalah yang akan dibahas selanjutnya yaitu :
1.Apakah politik luar negeri itu?
2.Mengapa Indonesia mengambil politik luar negeri bebas aktif?
3.Sebutkan model pembentukan proses pembuatan keputusan Politik Luar Negeri? 


BAB  III
PEMBAHASAN MASALAH

A.Pengertian politik luar negeri
Secara sederhana politik luar negeri diartikan sebagai skema atau pola dari cara dan tujuan secara terbuka dan tersembunyi dalam aksi negara tertentu berhadapan dengan negara lain atau sekelompok negara lain. Politik luar negeri merupakan perpaduan dari tujuan atau kepentingan nasional dengan power dan kapabilitas (kemampuan). Politik luar negeri adalah strategi dan taktik yang digunakan oleh suatu negara dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Dalam arti luas, politik luar negeri adalah pola perilaku yang digunakan oleh suatu negara dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Politik luar negeri berhubungan dengan proses pembuatan keputusan untuk mengikuti pilihan jalan tertentu. Menurut buku Rencana Strategi Pelaksanaan Politik Luar Negeri Republik Indonesia (1984-1988), politik luar negeri diartikan sebagai “suatu kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah dalam rangka hubungannya dengan dunia internasional dalam usaha untuk mencapai tujuan nasional”. Melalui politik luar negeri, pemerintah memproyeksikan kepentingan nasionalnya ke dalam masyarakat antar bangsa”. Politik Luar negeri merupakan politik pengejahwantahan kepentingan nasional suatu negara terhadap negara lain. Sementara kepentingan nasional menurut Jack C. Plano dan Roy Olton merupakan tujuan fundamental dan determinan utama yang menjadi pedoman para pengambil keputusan suatu negaradalam menentukan politik luar negerinya, berupa konsepsi yang diformulasikan sangat khas dari berbagai elemen, yang merupakan kebutuhan paling vital suatu negara berdaulat
Dari uraian dapat diketahui bahwa tujuan politik luar negeri adalah untuk mewujudkan kepentingan nasional. Tujuan tersebut memuat gambaran mengenai keadaan negara dimasa mendatang serta kondisi masa depan yang diinginkan. Pelaksanaan politik luar negeri diawali oleh penetapan kebijaksanaan dan keputusan dengan mempertimbangkan hal-hal yang didasarkan pada faktor-faktor nasional sebagai faktor internal serta faktor-faktor internasional sebagai faktor eksternal.

B.politik luar negeri bebas aktif     
Politik Luar Negeri yang bebas aktif mengandung dua unsur pokok. Pertama, "bebas" biasanya diartikan tidak terlibat dalam aliansi militer atau pakta pertahanan dengan kekuatan-kekuatan luar yang merupakan ciri Perang Dingin. Dalam arti lebih luas Politik Luar Negeri yang bebas menunjukkan tingkat nasionalisme yang tinggi, yang menolak keterlibatan atau ketergantungan terhadap pihak luar yang dapat mengurangi kedaulatan Indonesia. Kedua, kata "aktif" menunjukkan bahwa Politik Luar Negeri Indonesia tidaklah pasif dan hanya mengambil sikap netral dalam menghadapi permasalahan-permasalahan international. Muqadimah UUD 45 secara jelas menuntut Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan dan ikut memajukan perdamaian dunia.

Dalam bulan september 1948 sebagai wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan,bung Hatta memberi keterangan kepada Badan Pekerja KNIP tentang kedudukan dan politik Negara Republik Indonesia dewasa itu. RI menghadapi berbagai kesulitan yang tidak sedikit. Sejak keterangan bung Hatta itu politik luar negeri Republik Indonesia di sebut ‘politik bebas aktif’. Bebas, artinya menentukan jalan sendiri, tidak terpengaruh oleh pihak manapun juga, Aktif, artinya menuju perdamaian dunia dan bersahabat dengan seluruh bangsa.

Tampak jelas bahwa ide dasar politik luar negeri bebas aktif, Sudah merupakan suatu konsensus nasional bahwa dasar politik luar negeri kita adalah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan GBHN dengan tujuan untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sedangkan watak dan sifatnya adalah anti kolonialisme. Secara eksplisit, istilah politik luar negeri bebas aktif tersebut tidak terdapat dalam UUD ataupun peraturan-peraturan lainnya. Namun istilah ini mulai banyak dipergunakan oleh  para politisi dan negarawan kita semasa memuncaknya perang Korea (1950 – 1953). Kabinet RI ke-12 di bawah Perdana Menteri Dr. Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952) yang untuk pertama kalinya mencantumkan istilah ini dalam Program Kabinet yang antara lain menyatakan, menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif menuju perdamaian“.

Isitilah ini dipertegas lagi oleh Presiden Soekarno pada HUT RI tgl. 17 Agustus 1952 bahwa „politik bebas dan aktif menuju perdamaian dunia“.  Sejak itulah, istilah politik luar negeri bebas dan aktif merupakan suatu istilah melekat dan istilah pelengkap pada watak dan sifat haluan politik luar negeri yang berjiwa anti kolonialisme dan pro-perdamaian dan tidak mengikatkan diri kepada salah satu blok kekuatan militer serta dapat bekerjasama atas dasar hidup berdampingan secara damai. Kebijakan politik luar negeri bebas aktif ini bukan merupakan suatu dogma yang mati, melainkan hanya sebagai suatu pedoman dalam bertindak di antara kedua kekuatan blok dunia pada saat itu yaitu Amerika Serikat dan sekutunya vs Uni Soviet dan sekutunya, demi kepentingan nasional dan perdamaian internasional. Dalam suasana perang dingin yang tidak menentu, Gerakan Non Blok tahun 1961 muncul sebagai suatu gerakan moral dari negara-negara dunia ketiga yang berupaya untuk menjembati perang dingin dua kekuatan raksasa tersebut guna mencegah jangan sampai terjadi konfrontnasi terbuka apalagi perang nuklir yang dapat memusnahkan peradaban manusia. Pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif itu sebenarnya dapat bersifat kenyal artinya dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi pada saat itu walaupun prinsipnya tetap tetapi nuansanya dapat berubah.
Pedoman pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif Indonesia dewasa ini adalah Ketetapan MPR No. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang antara lain menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif dan berorientasi pada kepentingan nasional dengan menitik-beratkan pada solidaritas antara negara berkembang, mendukung kemerdekaan bangsa, menolak penjajahan dalam segala bentuk serta meningkatkan kemandirian bangsa dan kerjasama internasional bagi kesejahteraan rakyat.
Di samping itu, dengan telah disyahkannya Undang-Undang No. 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri tanggal 14 September 1999 maka Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan politik luar negeri selalu merujuk pada ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang tersebut.

C.    Model pembentukan politik luar negeri
Secara teoritis dasar pembentukan politik luar negeri berdasarkan yang diajukan oleh Graham Alison maka proses pembentukan politik luar negeri Indonesia bebas aktif .
  1. Model Rasional Aktor, yang mana tokohnya adalah Ir. Muhamad Hatta. Seperti diketahui dalam keterangan sebagai pemerintah tentang politiknya dimuka sidang badan pekerja KNIP di Yogyakarta, yang diajukannya pada tanggal 2 september 1948. pidatonya yang kemudian diberi judul “Mendayung Antara Dua Karang”.. Pada model ini politik luar negeri di pandang sebagai akibat dari tindakan-tindakan aktor rasional, dalam kerangka untuk memaksimalkan pencapaian kepentingan nasional. Pembuatan keputusan politik luar negeri digambarkan sebagai suatu proses intelektual. Perilaku pemerintah dianalogikan dengan perilaku individuyang bernalarkan dan terkoordinasi oleh naktor yang bersangkutan.
  2. Organisation process. Politik luar negeri dipandang sebagai hasil kerja sama suatu organisasi yang berfungsi menurut suatu pola perilaku. Pada pola ini politik luar negeri bukanlah semata-mata proses intelektual, tatapi lebih merupakan proses mekanis. Pembuatan keputusan dilakukan dengan cara mekanis yang merujuk pada keputusan-keputusan yang telah dibuat dimasa lalu, pada presenden, prosedur rutin yang berlaku, atau pada peran yang ditetapkan bagi unit birokrasi itu.
  3. Bereucratic politic. Politik luar negeri dipandang sebagai hasil dari proses interaksi, penyesuaian diri dan perpolitikan diantara berbagai actor dan organisasi, Dalam arti setiap keputusan luar negeri pasti melalui proses Bargaining antar kekuatan lembaga-lembaga politik dalam suatu Negara. Dengan kata lain, pembuatan keputusan politik luar negeri adalah proses sosial bukan proses intelektual. Berdasarkan ketiga model pembuatan keputusan tersebut politik luar negeri Indonesia bebas aktif dapat kita analisis sebagai hasil dari model pembentukan politik luar negeri

BAB IV
PENUTUP 

A.Kesimpulan
politik luar negeri Republik Indonesia di sebut ‘politik bebas aktif’. Bebas, artinya menentukan jalan sendiri, tidak terpengaruh oleh pihak manapun juga; Aktif, artinya menuju perdamaian dunia dan bersahabat dengan seluruh bangsa. Politik luar negeri Bebas Aktif menjadi jawaban atas tuntutan gejolak politik Global paska perang dunia II yang terpolarisasi dalam pertarungan dua Blok besar dunia atas nama perbedaan ideology, yang mengharuskan Negara-negara dunia ketiga paska kolonial harus menentukan pilihan politik luar negerinya. Para Founding Fathers secara brilian mampu merumuskan politik luar negeri yang tidak terjebak dalam alur politik global yang terkena sindrom perang Dingin. Disisi lain pertentangan terbuka antar kekuatan politik dalam negeri kerap membawa dampak pada implementasi politik luar negeri yang kerap keluar jalur dari konsep Bebas Aktif yang di kemukakan oleh Ir. Muhammad Hatta dalm pidatonya yan g berjudul Mendayung Antara Dua Karang.
Secara teoritis dasar pembentukan politik luar negeri berdasarkan yang diajukan oleh Graham Alison maka proses pembentukan politik luar negeri Indonesia bebas aktif .
  1. Model Rasional Aktor, yang mana tokohnya adalah Ir. Muhamad Hatta. Seperti diketahui dalam keterangan sebagai pemerintah tentang politiknya dimuka sidang badan pekerja KNIP di Yogyakarta, yang diajukannya pada tanggal 2 september 1948.
  2. Organisation process. Politik luar negeri dipandang sebagai hasil kerja sama suatu organisasi yang berfungsi menurut suatu pola perilaku.
  3. Bereucratic politic. Politik luar negeri dipandang sebagai hasil dari proses interaksi.
                                                                                            
DAFTAR PUSTAKA

Leifer, Michael. 1989,Politik Luar Negeri Indonesia.Jakarta, PT. Gramedia.
Ricklefs, M.C. 2005, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004,Jakarta, PT. Ikrar Mandiriabadi.
Swasono, Sri-Edi. Ridzal, Fauzi, 2002, Satu Abad Bung Hatta, Demokrasi kita, Bebas Aktif, Ekonomi Masa Depan. Jakarta,  UIP, Yogyakarta.
http://fdib.tripod.com/makalah/awang.html

Kamis, 14 November 2019

Makalah Perbandingan Agama

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah yang berjudul "Makalah Perbandingan Agama" ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam pendidikan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah tugas dan tujuan ilmu perbandingan agama merupakan masalah utama yang di hadapi dunia, terutama negara-negara yang sedang berkembang . ilmu perbandingan agama merupakan salah satu alat yang  tepat untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam zaman berkemajuan teknik tinggi dunia sekarang terasa terlalu kecil karena hubungan manusia semakin dekat dan sempit. tugas
Hubungan antar kelompok dan antar manusia sering terjadi  Tukar-menukar informasi tentang ide, pikiran dan agama, tidak begitu aneh.akibat nya berbagai soal selalu timbul. Soal pertemuan suatu ide, pikiran dan agama yang beraneka ragam memerlukan pemecahan dan harus di hadapi dengan  secara wajar, ilmu ini dapat memegang peranan.
Ilmu ini juga berusaha mencari hubungan antar agama dan mencoba mengungkap kan terminologi  dan istilah agama dalam bahasa yang sederhana sehingga tidak membingungkan bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu ini melalui agam yang di perlukan. 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukakan di atas maka timbul permasalahan-permasalahan yang akan di angkat dan di bahas: Bagaimana pengaruh ilmu perbandingan agama terhadap masyarakat sekarang Tujuan mempelajari ilmu agama Tinjauan-tinjauan ilmu perbandingan agama

C. Tujuan 
Tujuan pembahasan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa  tentang  tugas dan tujuan ilmu perbandingan itu sendiri.

D. Manfaat
- Memperoleh informasi tentang  tugas dan tujuan ilmu perbandingan agama
- Menjadi  bahan masukan bagi penduduk  yang  beda aliran
- Manfaat dari mempelajari ilmu perbandingan agama itu sendiri


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Perbandingan Agama
Dalam arti yang luas perbandingan ilmu agama adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari pada suatu kepercayaan dalam hubungan nya dengan agama lain. Tugas ilmu perbandingan agama di antara ilmu pengetahuan lain nya di abad ini tidak bisa diremehkan. Malah ilmu itu telah di kelompokan  kedalam “Carpus of Humanities” yang makin memperjelas fungsi nya.fungsi utama yang  telah ada akan di jalankan  adalah memahami kehidupan batin, nalar pikiran dan kecenderungan hati umat beragama. Sehingga dapat di ketahui  segi-segi persamaan dan perbedaan antar agama. Lebih dari itu lagi, ada agama yang datang lebih dahulu merupakan pengantar terhadap kebenaran agama yang datang kemudian. 

B. Tugas dan Tujuan  Ilmu Perbandingan Agama
Ilmu perbandingan agama mengembangkan suatu prinsip bagi seseorang dalam mempelajari dirinya sendiri sehingga ia akan memiliki kesadaran diri dalam kehidupan agama nya yang sedang berkembang dan dalam kehidupan agama yang beraneka-ragam.justru itu ilmu perbandingan agama merupakan suatu subjek yang kuat dalam bidang Humaniora. 

Namun kelambanan perkembangan nya di sebabkan oleh penelitian ilmiah dan penilai-penilai terhadap data-data yang relevan.namun ada nya suatu apresiasi sulit mengingkari  kenyataan bahwa pemahaman agama dalam kehidupan sehari-hari harus di pahami sebab problema sehari-hari  tidak bisa di lepaskan dengan agama dan sosial budaya. sehingga  menginvestasi kehidupan beragama sangat di tentukan oleh perubahan  daya hidup baik sosial, ekonomi dan budaya. Kultur, totalitas dapat di bentuk  agama sehingga menghasilkan suatu pola individu tertentu. Untuk itu dalam mendekati sesuatu agama  harus melalui cara tertentu dan harus berbeda dengan pendekatan teologis.

Disini lah tugas pokok ilmu ini, untuk menjelaskan segala macam persoalan sosial keagamaan  baik yang sifatnya Ttransendental  antara manusia dengan zat yang maha kuasa, maupun  yang bersifat horizontal antara manusia sesama nya dan dengan  alam.

Ilmu ini tidak berusaha mencari kebenaran suatu agama, karena kebenaran itu merupakan masalah teologi yang menggunakan jalan yang jarang di tempuh oleh ilmu pengetahuan. Agama dalam pandangan ilmu ini adalah sama. Oleh karena itu  ilmu ini tidak dapat menambah keimanan seseorang,  sehingga orang yang tidak beragama tidak dapat memperoleh kepercayaan dari ini. Para ahli perbandingan ilmu agama tidak berusaha dalam tiap bahasa nya untuk meyakinkan maksud agama sebagai mana usaha penganut agama itu sendiri. Penyelidikan perbandingan agam hanya untuk suatu perbandingan, bukan untuk menjadi ulama, pastor, pendeta, resi, bikshu sesuatu agama. Sebab untuk menjadi alim ulama suatu agama memerlukan waktu yang panjang. Sedangkan ilmu ini hanya mencatat fenomena-fenomena yang ada dalam setiap agama. Secara minimal dapat menimbulkan daya nalar dalam memperbandingkan berbagai fenomena agama yang baik  persamaan maupun perbedaan. 

Tentu saja karena Agama merupakan concern manusia sebagai totalitas, tentulah agama itu sangat besar peran nya termasuk mempengaruhi sikap pemeluk agama dalam bersikap menghadapi apa saja di sekitar nya serta menghadapi nasibnya sendiri. Oleh karena itu tidaklah salah kalau di kata kan bahwa di antara fungsi agama itu justru memberikan integritas masyarakat atau pun kejiwaan. 

Tujuan lain dari  ilmu perbandingan agama adalah menentukan apa yang esensi dari agama, seperti yang dikatakan oleh Fenomenologi Benyamin Constant di Prancis dan Cristophmeiner di jerman, diantara nya di temukan  bahwa agama-agama itu banyak persamaannya dan sering apa yang di namakan politheisme  itu sebenarnya monotheisme, tetapi  monotheisme yang tidak murni dan tidak asli.

Di antara tinjauan lain lagi dari ilmu perbandingan agama adalah menjadi  asal usul agama, The Origin dari agama. Asal-usul agama yang diperolehkan atau yang di cari adalah apakah sebenarnya asal-usul agama itu. Benarkah mesti berasal dari wahyu? Apakah tidak berasal dari Magi, penyembahan nenek moyang atau lainnya. Mestinya soal asal usul demikian lalu dirangakaikan dengan hukum perkembangan nya, sehingga ada yang mengemukakan kemungkinan ada  nya hukum refolusi  dalam perkembangan agama.

Lebih jauh dapat di jelaskan tujuan ilmu perbandingan agama adalah mengetahui isi ajaran agama yang sesuai dengan pemahaman dan penghayatan pemeluk-pemeluk nya. Tujuan demikian pasti berpengaruh terhadap langkah-langkah studi. 
Ada tiga langkah studi perbandingan agama yaitu:
1. Menemukan fakta-fakta
2. Menggali arti keagamaan
3. Menggambarkan generalisasi-generalisasi
Langkah pertama dan langkah kedua berkenaan dengan  pengetahuan-pengetahuan tentang fakta-fakta keagamaan itu sendiri  yang di sebut sebagai praktik keagamaan, simbol-simbol dari pola-pola dalam suatu masyarakat dalam keagamaan tertentu, kemudian itu semua di coba untuk di pahami dan di kemukakan tentang arti itu semua bagi pemeluk-pemeluknya. Jadi, kajian ilmu perbandingan agama tidak sekedar  mengetahui suatu ajaran, misalnya hinduisme namun juga manusia pemeluknya, yakni bagaimana pemeluk nya itu memahami  dan menghayati yang pada giliran nya itu kan berpengaruh atau fungsional terhadap bidang kehidupan lainnya. Langkah ketiga yang di kemukakan oleh  W.C Smith iyalah yang disebut sebagai Comparitis Religion Proper. langkah-langkah tersebut tidak bisa terlepas dari pendekatan historis baik yang menjangkau manusianya maupun yang berkenaan dengan materi.

BAB 3 
PENUTUP
A. Kesimpulan 
1. Ilmu perbandingan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari pada suatu kepercayaan dalam hubungan nya dengan agama lain.
2. Ada tiga langkah studi perbandingan agama yaitu:
-Menemukan fakta-fakta
-Menggali arti keagamaan
-Menggambarkan generalisasi-generalisasi

Langkah pertama dan langkah kedua berkenaan dengan  pengetahuan-pengetahuan tentang fakta-fakta keagamaan itu sendiri  yang di sebut sebagai praktik keagamaan, simbol-simbol dari pola-pola dalam suatu masyarakat dalam keagamaan tertentu, kemudian itu semua di coba untuk di pahami dan di kemukakan tentang arti itu semua bagi pemeluk-pemeluknya. Jadi, kajian ilmu perbandingan agama tidak sekedar  mengetahui suatu ajaran, misalnya hinduisme namun juga manusia pemeluknya, yakni bagaimana pemeluk nya itu memahami  dan menghayati yang pada giliran nya itu kan berpengaruh atau fungsional terhadap bidang kehidupan lain nya.langkah ketiga yang di kemukakan oleh  W.C Smith iyalah yang di sebut sebagai Comparitis Relegion Proper. Langkah-langkah tersebut tidak bisa terlepas dari pendekatan historis baik yang menjangkau manusia nya maupun yang berkenaan dengan materi.

B. Saran
Penyusun menyadari dalam menyusun makalah ini masih jauh dalam kesempurnaan, yang mana dari semua itu tidak terlepas dari kekurangan  ilmu pengetahuan yang penulis dapati, oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA
Wahap-nurdinah (2004) “ilmu perbandingan agama” Institut agama islam negeri ar-arniry Banda aceh.

Sabtu, 03 Februari 2018

KESEHATAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam menaruh perhatian yang besar terhadap dunia kesehatan. Kesehatan merupakan modal utama untuk bekerja, beribadah dan melaksanakan aktivitas lainnya. Ajaran Islam yang selalu menekankan agar setiap orang memakan makanan yang baik dan halal menunjukkan apresiasi Islam terhadap kesehatan, sebab makanan merupakan salah satu penentu sehat tidaknya seseorang. Sebagaimana Firman Allah yang terdapat dalam Q.S. Al Baqarah : 168 yang artinya :  “wahai sekalian manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik yang Kami rezekikan kepadamu.” (Q.S.Al-Baqarah: 168
Anjuran Islam untuk bersih juga menunjukkan obsesi Islam untuk mewujudkan kesehatan masyarakat, sebab kebersihan pangkal kesehatan, dan kebersihan di pandang sebagai bagian dari iman. Itu sebabnya ajaran Islam sangat melarang pola hidup yang mengabaikan kebersihan, seperti buang kotoran dan sampah sembarangan, membuang sampah dan limbah di sungai atau sumur yang airnya tidak mengalir dan sejenisnya, dan Islam sangat menekankan Kesucian atau Al-thaharah, yaitu kebersihan atau kesucian lahir dan batin. Dengan hidup bersih, maka kesehatan akan semakin terjaga, sebab selain bersumber dari perut sendiri, penyakit sering kali berasal dari lingkungan yang kotor.

B.Rumusan Masalah
1.Apa Pengertian Kesehatan Dalam Berbagai Disiplin Ilmu ?
2.Siapa Saja Tokoh Muslim Dalam Ilmu Kesehatan ?
3.Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Dalam Konteks Islam ?

II. PEMBAHASAN
A.Pengertian Kesehatan Dalam Berbagai Disiplin Ilmu
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi meliputi seluruh aspek kebutuhan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, social, dan spiritual. Sehat menurut batasan World Health Organization adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis.
  • Dalam pengertian yang paling luas. Sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis di mana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.
  • Dalam UU No.23,1992. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan hidup produktif secara social dan ekonomi. Dalam pengertian ini, maka kesehatan harus di lihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan social dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Tujuan Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rohani dan sosial sehingga umat manusia mampu menjadi umat yang pilihan.
Dalam Islam dikatakan sehat apabila memenuhi tiga unsur , yaitu kesehatan jasmani, kesehatan rohani dan kesehatan sosial. Kesehatan jasmani merupakan bentuk dari keseimbangan manusia dengan alam. Kesehatan rohani di mana ada keseimbangan dan hubungan yang baik secara spiritual antara khalik atau pencipta yang di wujudkan dari aktivitas makhluk dalam memenuhi semua perintah sang khalik. Yang terakhir adalah kesehatan sosial, dimana kesehatan yang bersifat psikilogis. Di mana ada ada keharmonisan antara sebuah individu dengan individu lain maupun dengan sistem yang berlaku pada sebuah tatanan masyarakat. Bila ketiga unsur ini terpenuhi maka akan tercipta sebuah keadaan baik fisik, mental, maupun spiritual yang produktif dan sempurna untuk menjalankan aktivitas kemakhlukan.
Islam dan seluruh ajarannya, memberikan sebuah pandangan yang tegas mengenai kesehatan. Kesehatan bukan hanya sebuah anjuran tetapi juga merupakan juga kewajiban. Semua ibadah-ibadah dalam Islam mengandung ajaran tentang pentingnya menjaga kesehatan. Karena penelitian terbaru mengungkapkan bahwa sebuah kondisi akan dikatakan sehat bila lingkungan di sekitarnya bersih. Oleh karena itu, Nabi mengatakan “kebersihan sebagian dari pada iman”.

B. Tokoh Muslim Dalam Ilmu Kesehatan
Beberapa tokoh muslim dalam ilmu kesehatan sebagai berikut:
a.Hunain Ibnu Ishaq
Beliau dilahirkan pada tahun 809 M dan meninggal pada tahun 874 M. Beliau ialah spesialis mata. Hasil karyanya ialah buku-buku yang membicarakan berbagai penyakit. Beliau banyak menerjemahkan buku-buku kedokteran yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.

b.Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria Ar Razi
Beliau dilahirkan pada tahun 866 M dan meninggal pada tahun 909 M. Buku karangannya tentang kedokteran dijadikan buku pegangan di Fakultas Kedokteran. Bukunya di beri nama Al Hawi (menyeluruh). Ia yang menemukan penyakit cacar, dan membaginya menjadi cacar air (variola) dan cacar merah (rovgella), menemukan terapi tekanan darah tinggi atau hipertensi.

c.Ibnu Sina
Ibnu sina, dilahirkan di Afsara (Asia tengah) pada tahun 980 H/ 1593 M dan meninggal di Isfahan pada tahun 1037 H/1650 M. Bukunya yang sangat terkenal dibidang kedokteran adalah Al Qanun Fi Al Thib, dijadikan buku pedoman kedokteran, baik di Universitas-universitas Eropa maupun Negara Islam.
d.Abu Mawar Abdul Malik ibnu Abil ‘Ala Ibnu Zuhur
Beliau lahir pada tahun 1091 M dan meninggal pada tahun 1162 M. Beliau sebagai dokter spesialis penyakit dalam atau internis.

C. Cara Menjaga Kesehatan Dalam Konteks Islam
Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita mengenai kesehatan, tidak sedikit dari ucapannya mengandung unsur medis yang mutakhir. Dari ajaran beliau mengenai perihal orang sakit ialah:
1.Perintah untuk berobat. Kewajiban bagi setiap muslim yang sakit untuk berobat.

2.Setiap penyakit ada obatnya Seperti:
a.Karantina penyakit, Nabi bersabda “jauhkanlah dirimu sejauh satu atau dua tombak dari orang yang berpenyakit lepra.
b.Islam juga mengajarkan prinsip-prinsip dasar dalam penanggulangan berbagai penyakit infeksi yang membahayakan masyarakat. Sabda Nabi yang berbunyi “jangan engkaulah masuk ke dalam suatu daerah yang sedang terjangkit wabah, dan bila dirimu berada di dalamnya janganlah pergi meninggalkannya” 

3.Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan upaya proteksi diri (ikhtiar) dari berbagai penyakit infeksi, misalnya dengan imunisasi.

4.Menyembuhkan orang sakit. Kesehatan merupakan hal yang mutlak dalam menjalani aktivitas kehidupan manusia, bila tubuh manusia dalam keadaan sehat mereka bisa melakukan aktivitas ibadah (hubungan manusia dengan Tuhannya), aktivitas sosial (hubungan manusia dengan manusia), serta aktivitas dunia (hubungan manusia dengan alam).
Oleh karena itu dibutuhkanlah metode untuk menjaga kesehatan manusia. Allah memberikan petunjuk melalui perantara Nabi dengan segala aktivitas dan ucapan Nabi yang telah di rancang sedemikian rupa untuk bisa diikuti manusiawi secara utuh. Beberapa bentuk menjaga kesehatan antara lain:
1.Kesehatan jasmani
Manusia adalah makhluk yang selalu ingin memenuhi seluruh kebutuhannya, keinginan manusia yang tidak terbatas kadang membuat manusia menjadi rakus. Makan berlebih, pola hidup yang tidak baik, penggundulan hutan untuk bahan bangunan, eksploitasi laut yang tidak bertanggung jawab, semuanya itu akan membuat keseimbangan alam terganggu.  Di sadari maupun tidak, manusia merupakan bagian dari alam. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kesehatan jasmani berhubungan dengan alam. Nabi pernah bersabda “sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu”.
Kesehatan fisik merupakan keadaan yang sangat penting dalam mendukung aktivitas lainnya. Hal ini disebabkan karena dalam perintah Allah pada manusia banyak yang berupa aktivitas fisik yang memerlukan kondisi yang prima, seperti shalat, puasa, ibadah haji dan ibadah lainnya. Ajaran Islam untuk menjaga kesehatan fisik terlihat dalam beberapa perintah Allah, seperti shalat yang mampu meregangkan otot. Karena setiap gerakan shalat seperti mempunyai kunci tubuh, sehingga sendi-sendi bisa lentur dan menyehatkan. Wudhu yang menurut penelitian bisa merangsang saraf-saraf pada daerah yang terusap air wudhu, puasa yang menyehatkan, ibadah haji yang merupakan puncak dari ibadah yang membuat tubuh kuat, karena rukun-rukunnya yang melatih kondisi stamina tubuh.
Islam yang sangat mementingkan kesehatan jasmani dan fisik yang dilakukan dengan cara menjaga kebersihan, olahraga, menjaga asupan makanan. Dan semuanya terintegrasi dalam setiap aktivitas ibadah. Hal ini agar menjadi kebiasaan yang tidak disadari untuk umat Islam dan merupakan bentuk pendidikan dari Allah.

2.Kesehatan rohani
Seperti yang dijelaskan dalam  Firman Allah yang tertuang dalam Al – Qur’an surat Al- Ra’d : 28 yang berbunyi : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram. (Q.S. Al-Ra’d: 28)
Menurut Prof Dr. Nasaruddin Umar M.A, Guru besar UIN Syarif hidayatullah Jakarta mengatakan didalam manusia ada unsur jasad (jasadiyyah), unsur nyawa, dan unsur ruh yang dalam Al-Qur’an di sebut KHALQAN AKHAR. Seseorang baru disebut manusia jika memiliki ke 3 unsur ini.
Hubungan antara makhluk dengan Tuhannya akan berjalan baik bila sang makhluk menaati apa yang di perintahkan Allah, ciri-ciri jiwa yang sehat yang dalam Al-Qur’an di sebut Qalbun Salim, seperti hati yang selalu bertobat (at-taqwa), hati yang selalu menjaga dari hal-hal keduniaan (al-zuhd), hati yang selalu ada manfaatnya (al-shumi), hati yang selalu butuh pertolongan Allah (al-faqir).
 
3.Kesehatan sosial
Hidup bermasyarakat dalam arti yang seluas-luasnya adalah salah satu naluri manusia. Menurut Aristoteles menyebutkan manusia adalah Zone Polition, yaitu manusia yang selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Oleh karena itulah dalam Islam di kenal istilah Ukhuwah (persaudaraan) yang akan mendatangkan muamalah (saling menguntungkan), hal ini memungkinkan rasa persaudaraan lebih tinggi.
Hal ini sesuai dengan Q.S. Al – Hujurat ayat 13 yang menyatakan: “hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. (Q.S. Al-Hujarat: 13)
Menjaga Kesehatan pribadi dan lingkungan dalam Islam :
1.Tubuh. Islam memerintahkan mandi bagi umatnya untuk membersihkan tubuhnya dari najis dan hadas. Dia mengajarkan kepada umatnya, mulai memotong kuku, membersihkan luas jari, mencabut bulu ketiak dan bersiwaq hingga bagaimana cara dia makan.

2.Tangan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “cucilah kedua tanganmu sebelum dah sesudah makan dan cucilah kedua tanganmu setelah bangun tidur. Tidak seorang pun tahu di mana tangannya berada di saat tidur.”

3.Makanan dan Minuman. Rasulullah SAW. bersabda “tutuplah bejana air dan tempat minummu”.

4.Rumah. “Bersihkanlah rumah dan halaman rumahmu”, sebagaimana di anjurkan untuk menjaga kebersihan dan keamanan jalan.

5.Perlindungan sumber air. Rasulullah melarang umatnya membuang kotoran di tempat-tempat sembarangan, misalnya sumur, sungai, dan pantai. Perintah-perintah Rasulullah tersebut memiliki makna bahwa kita harus menjaga kebersihan dan kesehatan agar terhindar dari berbagai infeksi saluran pencernaan.

III. Penutup
A.Kesimpulan
1.Dalam Islam seseorang dikatakan sehat jika memenuhi tiga unsur yaitu sehat jasmani, sehat rohani dan sehat sosial
2.Beberapa tokoh muslim dalam ilmu kesehatan adalah Hunain Ibnu Ishaq, Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria Ar Razi, Ibnu Sina, Abu Mawar Abdul Malik ibnu Abil ‘Ala Ibnu Zuhur
3.Menjaga Kesehatan fisik  dengan pola hidup sehat dan olah raga yang teratur, Menjaga kesehatan rohani dengan senantiasa mengingat Allah, menjalankan perintah dan menjauhi segala laranganya sehingga kita mempunyai jiwa yang sehat ( Qolbun Salim ). Menjaga kesehatan sosial dengan selalu menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan lingkungan sekitar sehingga mendatangkan muamalah (saling menguntungkan )

B.Saran
Mengingat didalam Islam sangat memprioritaskan kesehatan baik secara jasmani, rohani dan sosial, maka hendaknya kita sebagai umat muslim selalu menjaga pola hidup dan berolahraga, menjaga lingkungan, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan bersosialisasi dengan masyarakat

DAFTAR PUSTAKA
Q.S Al Baqarah : 168
Mufid, Ahmad Syafi’i. dkk. 2000. Pendidikan Agama Islam Edisi 2.Jakarta: Yudhistira
http.www//cara_sehat_islami.com tanggal 30 Nov 2011, jam 14.00 Wita
Nata, Abudin. 2004. Perspektif Islam Tentang Pendidikan Kedokteran Paradigma Sehat
Al-jauiziyah, Ibn Al-qayim.1999. Terapi Penyakit Dengan Alqur’an dan As-sunah. Jakarta: Pustaka Amani
http://82junior.blogspot.com/2011/06/hubungan-kesehatan-lingkungan-dengan.html. Unduh Tgl 25 Nov. 2011 Jam 20.00 Wita
Q.S. Al-Ra’d : 28
Sakit dalam Islam,Etika Kedokteran Islam Dan Kewajiban Daftar Muslim Terhadap Penderita Penyakit. Jakarta: UIN
Lomenta, Benjamin. 1989. Buku Panduan Pelayanan Kesehatan. Bandung : EGC

Q.S Al Baqarah : 168
Mufid, Ahmad Syafi’i. dkk. 2000. Pendidikan Agama Islam Edisi 2.Jakarta: Yudhistira. Hal 5
http.www//cara_sehat_islami.com tanggal 30 Nov 2011, jam 14.00 Wita
Nata, Abudin. 2004. Perspektif Islam Tentang Pendidikan Kedokteran Paradigma Sehat. Hal 75
Al-jauiziyah, Ibn Al-qayim.1999. Terapi Penyakit Dengan Alqur’an dan As-sunah. Jakarta: Pustaka Amani. Hal 125
http://82junior.blogspot.com/2011/06/hubungan-kesehatan-lingkungan-dengan.html. Unduh Tgl 25 Nov. 2011 Jam 20.00 Wita
Q.S. Al-Ra’d : 28
Sakit dalam Islam,Etika Kedokteran Islam Dan Kewajiban Daftar Muslim Terhadap Penderita Penyakit. Jakarta: UIN. Hal 59
Lomenta, Benjamin. 1989. Buku Panduan Pelayanan Kesehatan. Bandung : EGC

Senin, 15 September 2014

MAKALAH PENDEKATAN STUDI ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada awal tahun 1970-an berbicara mengenai penelitian agama dianggap tabu. Orang akan bertanya: kenapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti; agama adalah wahyu Allah. Sikap serupa juga terjadi di Barat. Dalam pendahuluan bukuSeven Theories Of Religion dikatakan, dahulu orang Eropa menolak anggapan adanya kemumgkinan meniliti agama. Sebab, antara ilmu dan nilai serta antara ilmu dan agama (kepercayaan), tidak bisa disinkronkan. 
Namun gelombang perhatian terhadap agama belakangan ini meningkat tajam. Agama yang dalam kerangka positivisme disertakan dengan “mitos” dan karenanya diramalkan akan tenggelam dilibas kekuatan “ideologi” dan “ilmu pengetahuan”, kini kian menunjukkan nyalanya. 
Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampikan dalam khutbah, melainkan secara konsepsional menunjukkkan cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Diketahui bahwa Islam sebagai agama yang memiliki banyak dimensi, yaitu mulai dari dimensi keimanan, akal pikiran, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sejarah, perdamaian, sampai pada kehidupan rumah tangga, dan masih banyak lagi. Untuk memahami berbagai dimensi ajaran Islam tersebut jelas memerlukan berbagai pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Di dalam Al Qur’an yang merupakan sumber ajaran Islam, misalnya dijumpai ayat-ayat tentang proses pertumbuhan dan perkembangan anatomi tubuh manusia. Untuk menjelaskan masalah ini jelas memerlukan dukungan ilmu anatomi tubuh manusia. Selanjutnya untuk membahas ayat-ayat yang berkenaaan dengan masalah tanaman dan tumbuh-tumbuhan jelas memerlukan bantuan ilmu pertanian.
Berkenanaan dengan pemikiran diatas, maka kita perlu mengetahui dengan jelas pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam memahamai agama. Hal ini perlu dilakukan, karena melalui pendekatan tersebut kehadiran agama secara fugsional dapat dirasakan oleh penganutnya.  Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, tidak mustahil agama menjadi sulit dipahami oleh masyarakat, tidak fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama, dan hal ini tidak boleh terjadi.
Ditinjau dari perspektif pendekatan yang digunakan, studi Islam menggunakan berbagai macam pendekatan. Hal ini sangat menarik untuk dikaji untuk mengetahui pendekatan apa saja yang digunakan untuk mengkaji islam. Namun apa yang dipaparkan dalam makalah ini bukanlah sebuah uraian yang utuh, melainkan hanya sebagian dari aneka pendekatan yang digunakan dalam mengkaji Islam.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada malah ini adalah :
1.Apa pengertian dari pendekatam dalam kaitannya dengan studi agama?
2.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Antropologis?
3.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Feminis?
4.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Fenomenologis?
5.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Filologi?
6.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Filosofis?
7.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Hermeneutik?
8.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Historis?
9.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Psikologis?
10.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Sosial-Budaya?
11.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Sosiologis?
12.Bagaimana pemahaman agama bila dilihat dari pendekatan Teologis?

 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendekatan
Dalam mempelajari agama diperlukan berbagai macam pendekatan agar substansi dari  agama itu mudah dipahami. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini Jamaluddin Rakhmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma realitas agama yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Oleh karena itu, tidak ada persoalaan apakah penelitian agama itu, penelitian ilmu sosial, penelitian legalisti, atau penelitian filosofis.
Berbagai pendekatan manusia dalam memahami agama dapat melalui pendekatan paradigma ini. Dengan pendekatan ini semua orang dapat sampai pada agama. Di sini dapat dilihat bahwa agama bukan hanya monopoli kalangan teolog dan normalis, melainkan agama dapat dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupannya. Oleh karena itu, agama hanya merupakan hidayah Allah dan merupakan suatu kewajiban manusia sebagai fitrah yang diberikan Allah kepadanya. 

B. Pendekatan Antropologis
Antropologi adalah ilmu tentang manusia khususnya tentang asal-usul, neka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaan pada masa lampau. Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mengkkaji masalah manusia dan budayanya. Ilmu ini bertujuan untuk memperoleh suatu pemahaman totalitas manusia sebagai makhluk hidup, baik di masa lampau maupun masa sekarang. Antropologi itu tidak lebih dari suatu usaha untuk memahami keseluruhan pengalaman sosialnya. Maka hasil maksimum yang diperoleh dari antropologi adalah fenomena yang menunjukkan adanya Tuhan. 
Pendekatan antropologis dan studi agama membuahkan antropologi agama yang dapat dikatakan sebagian dari antropologi budaya, bukan antropologi sosial. Metode antropologi pada umumnya adalah objek sekelompok manusia sederhana dalam kebudayaan hidupnya. Jadi, studi antropologis terhadap agama saat ini tidak didasarkan pada data penentuan laporan, melainkan hanya berdasarkan dari tulisan dan laporan kisah perjalanan ahli antropolog. 
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh berkembang dimasyarakat. Melalui perndekatan ini agama tamapak lebih akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.
Dalam berbagai penelitian antropologi, agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik golongan masyarakat yang kurang mampu. Pada umumnya mereka lebih tertarik kepada gerakan-gerakan keagamaan yang menjanjikan perubahan tatanan sosial masyarakat. Sedangkan golongan orang yang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.
Melalui pendekatan antropologi sosok agama yang berada pada daratan empirik akan dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan dirumuskan. Antropologi berupaya melihat hubungan antara agama dengan berbagai pranata yang terjadi di masyarakat.  
Dalam pendekatan ini kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaan. Selanjutnya melalui pendekatan antropologis ini, kita dapat melihat agama dalam hubungannya dengan mekanisme pengorganisasian.
Salah satu konsep terpenting dalam antropologi modern adalah holisme, yakni pandangan bahwa praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang diteliti. Para antropolog harus melihat agama dan praktik-praktik pertanian, kekeluargaan dan politik, magic dan pengobatan secara bersama-sama, maka agama tidak bisa dilihat sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya. 
Obyek studi antropogis terhadap agama ini adalah model-model keagamaan misalnya mite, upacara, totem, dan lain-lain. Menurut Anthoni Jackson obyek ini ada 4 kelompok :
• Modus pemikiran primitif meliputi masalah kepercayaan, rasionalitas dan klasifikasi sistemnya,          semacam soal totem.
• Bagaimana pemikiran dan perasaan dikomunikasikan, seperti melalui simbol dan mite.
• Teori dan praktik keagamaan yang biasanya topik sentralnya adalah ritus.
• Praktik ritual sampingan seperti soal magic, ekstase dan orakel.
Monograf atau penggambaran model keagamaan masyarakat sederhana yang menjadi obyek pendekatan antropologis, adapula yang menggunakan model lain atau aliran-aliran dalam antropologi agama, diantaranya :
a. Aliran Fungsional
Tokoh aliran fungsional diantaranya adalah Brosnilaw Kacper Malinowski (1884-1942). Malinowski berkeyakinan bahwa manusia primitif mempunyai akal yang rasional, walaupun sepintas lalu mungkin segi-segi kebudayaan mereka kelihatannya tidak rasional. Baginya tujuan dari penelitiannya yakni meraba titik pandang pemikiran masyarakat sederhana dan hubungannya dengan kehidupan, serta menyatakan pandangan mereka tentang dunia.
 
b. Aliran Historis
Tokoh aliran antropologi historis ini adalah E.E. Evans Pritchard (1902-1973). Ciri-ciri antropologi historisnya adalah :
•Seperti halnya sejarah, berusaha mengerti, memahami ciri terpenting sesuatu kebudayaan, dan seterusnya menerjemahkannya ke dalam kata-kata atau istilah-istilah bahasa peneliti sendiri.
•Seperti halnya pendekatan sejarah, berusaha menemukan struktur yang mendasari masyarakat dan kebudayaannya dengan analisis-analisisnya yang dapat dinamakan analisis structural.
•Struktur masyarakat dan kebudayaan tadi kemudian dibandingkan dengan struktur masyarakat dan kebudayaan yang berbeda. Evans Pritchard berpendapat bahwa masyarakat primitif sebenarnya juga berpikir rasional seperti halnya manusia modern. Dalam karyanya tentang suku Nuer, ia menganalisis arti konsep-konsep kunci yang terdapat dalam suku Nuer seperti Kowth yang berarti semacam hantu, berusaha menemukan motif-motif tradisi lisan mereka, serta berusaha memahami simbol-simbol dan ritus-ritus mereka. Disamping itu, ia berusaha menemukan wujud konkret agama itu. Ia ingin menemukan apa yang dinamakan agama itu, yang kenyataannya bersangkutan dengan segala yang berada di sekeliling manusia, baik secara pribadi maupun secara sosial. 
      
c. Aliran Struktural
Tokoh pendekatan antropologi struktural adalah Claude Levi Strauss (1908-1975). Obyek favoritnya adalah keluarga masyarakat sederhana, bahasa dan mite. Bahasa dan mite. Bahasa dan mite menggambarkan kaitan antara alam dengan budaya. Dalam hubungan antara alam dan budaya itulah dapat ditemukan hukum-hukum pemikiran masyarakat yang diteliti. Baginya alam mempunyai arti lain dalam pengertian biasa. Alam diartikan segala sesuatu yang diwarisi manusia oleh manusia dari manusia sebelumnyasecara biologis, artinya tidak diusahakan dan tidak diajarkan serta dipelajari. Sedangkan budaya adalah segala sesuatu yang diwarisi secara tradisi sehingga akan berisikan semua adat istiadat, keterampilan serta pengetahuan manusia primitif. Jadi antropologi struktural yaitu pemikiran-pemikiran yang mendasari semua tingkah laku dan agama masyarakat primitif.
Melalui pendekatan antropologi terlihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dn fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia. Pendekatan antropologi seperti itu diperlukan adanya, sebab banyak berbagai hal dibicarakan agama hanya bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologi. Artinya manusia dalam memahami ajaran agama, dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi dan cabang-cabangnya.

C. Pendekatan Feminis
Pendekatan feminis dalam studi agama tidak lain merupakan suatu transformasi kritis dari perspektif teoretis yang ada dengan menggunakan gender sebagai kategori analisis utamanya. Sebagaimana agama, feminis memberi perhatian pada makna identitas dan totalitas manusia pada tingkat yang paling dalam, didasarkan pada banyak pandangan interdisipliner baik dari antropologi, teologi, sosiologi dan filsafat. Tujuan utama dari tugas feminis adalah mengidentifikasi sejauh mana terdapat persesuaian antara pandangan feminis dan pandangan keagamaan terhadap kedirian, dan bagaimana menjalin interaksi yang paling menguntungkan antara satu dengan yang lain.
Perkebangan teoretis belakangan dalam studi keagamaan perempuan menunjukkan bahwa disamping mencari asal status inspirasional seluruh perepuan masa lampau, juga memunculkan pertanyaan yang perlu dijawab mengenai dinamika historis agama, gender, dan kekuasaan.
Sebagai hasilnya, pendekatan feminis telah dan terus berfungsi sebagai suatu percobaan untuk menguji kemampuan agama dalam mendefinisikan kebermaknaannya sendiri dalam konteks pluralitas kontemporer dan menghadapi tantangan postmodernitas.  

D. Pendekatan Fenomenologis
Fenomenologi merupakan salah satu pendekatan yang unik diantara banyak pendekatan dalam studi islam. Pendekatan fenomenologis mula-mula merupakan upaya membangun suatu metodologi yang koheren bagi studi agama. Namun jika ditinjau dari segi sejarah, fenomenologi sebenarnya telah lama digunakan.
Sejak zaman Edmund Husserl (1859-1938), arti fenomenologi telah menjadi filsafat dan menjadi metodologi berpikir. Sebagai sebuah aliran filsafat, Edmund Hussrel dianggap sebagai pendirinya. Dalam pandangan Husserl, fenomenologi adalah suatu disiplin filsafat yang solid dengan tujuan membatasi dan melengkapi penjelasan psikologis murni tentang proses pikiran.
Objek studi fenomenologi adalah perbedaan berbagai bidang objek, yang disebut neomata, yaitu cirri-ciri yang membuat kesadaran orang menjadi kesadaran terhadap objek. Untuk memahami fenomenologi Husserl, orang harus paham istilahneoma. Neoma adalah kumpulan semua sifat objek, neoma ini tidak lain hanyalah sebuah generalisasi ide tentang makna mengenal lapangan segala tindakan.
Orientasi fenomenologi adalah bahwa pengertian yang benar adalah pengertian yang asli dan bersih, yang ditempuh dengan jalan reduksi. Sifat pokok dari fenomenologi adalah realitas atau fakta berbicara dalam suasana intention. Dalam konteks studi agama, pendekatan fenomenologi tidak bermaksud untuk memperbandingkan agama-agama sebagai satuan-satuan besar, melainkan menarik fakta dan fenomena yang sama yang dijumpai dalam agama yang berlainan, mengumpulkan dan mempelajarinya per kelompok.
Pada intinya ada tiga tugas yang harus dipikul oleh fenomenologi agama, yatu:pertama, mencari hakikat ketuhanan. Kedua, menjelaskan teori wahyu. Dan ketiga,meneliti tingkah laku keagamaan. 
Sedangkan bidang garap fenomenologi adalah: pertama, menerangkan apa yang sudah diketahui yang terdapat dalam sejarah agama, tetapi dengan caranya sendiri.Kedua,  fenomenologi berusaha menyusun bagian pokok agama atau sifat alamiah agama, yang juga faktor penamaan dari semua agama. Ketiga, fenomenologi tidak mempersoalkan apakah gejala keagamaan itu benar, apakah bernilai, dan bagaimana dapat menjadi demikian, atau menentukan lebih besar atau kecilnya nilai keagamaan mereka. 
                                                                          
E. Pendekatan Filologis
Tampaknya penelitian agama memang tidak dapat dipisahkan dari aspek bahasa, karena manusia adalah makhluk berbahasa sedangkan doktrin agama dipahami, dihayati dan disosialisasikan melalui bahasa. Sesungguhnya pengertian bahasa amat luas dan beragam seperti bahasa isyarat, bahasa tanda, bahasa bunyi, bahkan bahasa manusia, bahasa binatang dan bahasa alam. Melalui bahasa manusia dan makhluk-makhluk lain dapat berkomunikasi.
Pembahasan berikut ini mengenai pengertian bahasa yang dipersempit dan diartikan sebagai kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau memerintah. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa merasakan perbedaan antara bahasa iklan, bahasa politik, bahasa ilmu pengetahuan maupun bahasa obrolan penuh persahabatan. Jika kita memahami sebuah wacana hanya dari segi ucapan literalnya, maka kita bukannya disebut orang jujur dan lugu, melainkan orang yang bodoh dan tidak komunikatif sebagai makna sebuah kata ataupun kalimat selalu berkaitan dengan konteks. Hal demikian juga terjadi dalam bahasa agama, karena di dalam bahasa agama banyak digunakan bahasa simbolik dan metaforik, maka kesalahpahaman untuk menangkap pesan dasarnya mudah terjadi. Sekaligus untuk menghindari kesalahpahaman, sebaiknya kita sepakati lebih dahulu apa pengertian bahasa agama serta apa saja cakupan masalahnya. Istilah bahasa agama menunjuk pada tiga macam bidang kajian dan wacana. Pertama, ungkapan-ungkapan  yang digunakan untuk menjelaskan obyek pemikiran yang bersifat metafisi, terutama tentang Tuhan. Kedua, bahasa kitab suci terutama bahasa Al-Qur'an dan Ketiga bahasa ritual keagamaan.

F. Pendekatan Filosofis
Pendekatan filosofis dalam studi agama saat ini sedang mengalami krisis identitas. Dua pertanyaan berikut akan memperjelas watak krisis ini. Pertama, “di mana” pendekatan filosofis dalam studi agama dapat ditemukan? Pertanyaan ini penting karena dalam menjawabnya kita dipaksa berpikir. Akan tetapi pertanyaan ini tampaknya tidak menemukan jawaban yang jelas. Kita dapat menemukan orang yang menggunakan pendekatan filosofis dalam studi agama di departemen filsafat, departemen studi keagamaan, departeen teologi, dan departemen kemanusiaan.
Kedua, mengapa banyaknya tempat atau  konteks yang berbeda-beda menyebabkan krisis identitas? Lagi-lagi, tidak mengherankan tampak tidak ada jawaban tunggal yang dikemukakan atau kesepakatan yang dicapai. Terdapat suatu kesepakatan bahwa kita menghadapi wilayah kepentingan yang luas, sehingga secara natural akan terjadi ketidaksepakatan bahkan perpecahan.
Maka ada dua hal yang muncul ke permukaan yaitu: pertama, tidak mungkin membicarakan pendekatan filosofis terhadap agama, karena terdapat banyak pendekatan filosofis dan sejak awal harus berhati-hati dalam mengidentifikasi secara pasti bentuk pendekatan mana yang digunakan. Kedua, pendekatan yang digunakan akan bergantung pada konteks di mana orang itu melakukan penelitian. Pada tingkat yang luas, konteks akan menentukan apa yang dipahami seseorang untuk dilakukan. Dan adalah penting bagi siapa pun yang menggunakan pendekatan filosofis yang distingif dalam studi agama berarti menyadari apa konteksnya dan apa konsekuensinya yang akan mereka dapatkan.
Dalferd menyatakan ketika kita mengkaji agama, tidak mungkin menghindari penggunaan filsafat. Suatu pendekatan filosofis terhadap agama merefleksikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pengalaman keagamaan prateologis dan dalam wacana keyakinan. Dengan kata lain, tugas filsafat adalah melihat persoalan-persoalan yang melingkupi pengalaman manusia, faktor-faktor yang menyebabkan pengalaman manusia menjadi pengalaman religius, dan membahas bahasa yang digunakan umat beriman dalam membicarakan keyakinan mereka. Bagi Dalferd rasionalitas kerja reflektif agama dalam proses keimanan yang menuntut pemahaman itulah yang meniscayakan adanya hubungan antara agama dengan filsafat.
Keterkaitan antara keduanya terfokus pada rasionalitas, kita dapat menyatakan bahwa suatu pendekatan filosofis terhadap agama adalah suatu proses rasional. Yang dimaksud proses rasional disini mencakup dua hal, yaitu: menunjukkan fakta bahwa akal memainkan peran fundamental dalam refleksi pengalaman dan keyakinan keagamaan dalam suatu tradisi keagamaan serta dalam menunjukkan keimanan, tradisi keagamaan harus dapat menggunakan akal dalam membuat argumenlogis yang dapat dibenarkan.
Pada akhirnya, tujuan berbagai pendekatan filosofis dalam studi agama adalah memberikan perangkat-perangkat berfikir tentang sesuatu dan berbincang-bincang dengan orang lain. Anda berfilsafat hanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menguji ide-ide, ingin tahu ke mana alur pemikiran berjalan. Suatu pendekatan filosofis terhadap agama tidak perlu dibedakan, ini adalah eksperimentasi. 

G. Pendekatan Hermeneutik
Kata hermeneutik berasal dari kata kerja Yunani hermeneunien yang berarti mengartikan, menafsirkan, menrjemahkan, bertindak sebagai penafsir.[14]Munculnya hermeneutik bertujuan untuk menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan sebuah teks dari masa lampau, khususnya teks kitab suci dan teks klasik. Hermeneutik dibutuhkan karena teks merupakan simbol yang mengandung makna ketika dilihat oleh pembaca, karena pada saat itu pembaca disudutkan pada dua kondisi yang berbarengan yaitu akrab atau kenal kdan asing dengan teks.
Dalam perkembangannya hermeneutik hingga sekarang ini, hermeneutik minimal mempunyai tiga pengertian. Pertama, dapat diartikan sebagai peralihan dari suatu yang relative abstrak ke dalam bentuk ungkapan yang konkret. Kedua,terdapat usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh pembaca. Ketiga,seseorang sedang memindahkan suatu ungkapan pikiran yang kurang jelas diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas. 
Dalam studi hermeneutik, unsur interpretasi merupakan kegiatan yang paling penting. Sebab interpretasi merupakan landasan bagi metode hermeneutik. Cara kerja interpretasi bukanlah dilakukan secara bebas melainkan bertumpu pada evidensi objektif. Semua interpretasi mencakup pemahaman. Untuk dapat membuat interpretasi, orang lebih dahulu harus mengerti atau memahami. Mengerti dan interpretasi menimbulkan “lingkaran hermeneutik”.
Aspek lain dalam hermeneutik yang sangat penting adalah bagaimana mengungkap makna sebuah teks yang asing. Dalam memperoleh makna yang sebenarnya dari sebuah teks, dibutuhkan perhatian khusus untuk mempertimbangkan berbagai variable yang ada. 
Dalam konteks studi islam, hermeneutik biasanya dipahami sebagai sebentuk ilmu tafsir yang mendalam bercorak filosofis. Contoh pendekatan hermeneutik dalam studi islam adalah analisis operasional hermeneutik dalam Tafsir Al Manar karya Muhammad Abduh dan Tafsir Al Azhar karya Hamka yang dilakukan oleh Fakhruddin Faiz. Dalam kajiannya, Faiz mengatakan bahwa cara Tafsir Al Manar dan Tafsir Al Azhar dalam mengolah teks yang berupa kata, kalimat ataupun ayat secara umum adalah dengan menggali dan melacak makna yang ada di balik apa yang disimbolkan oleh teks.
Pendekatan hermeneutik ini nampaknya sedang banyak diminati dan dikembangkan dalam studi islam. Walaupun pendekatan ini tidak diterima oleh seluruh kalangan islam, sebab ada yang melarang, bahkan mengharamkan penggunaan hermeneutik. Tetapi jika dilakukan analisis secara cermat, ada banyak kontribusi positif yang dapat dikembangkan dalam mengkaji, mengembangkan dan menggali khazanah islam dengan pendekatan ini. 

H. Pendekatan Historis
Ditinjau dari sisi etomologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah(pohon) dan dari kkata history dalam bahasa Inggris yang berarti cerita atau kisah. Kata history sendiri lebih populer untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan. Jika dilacak dari asalnya, kata history berasal dari bahasa Yunani istoria yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia, yang bersifat kronologis.
Pengertian sejarah itu juga bisa mengacu kepada dua konsep terpisah. Pertama,sejarah yang tersusun dari  serangkaian peristiwa masa lampau, keseluruhan pengaaman manusia. Kedua, sejarah sebagai suatu cara yang  dengannya fakta-fakta diseleksi, diubah-ubah, dijabarkan dan dianalisis. Konsep sejarah dengan pengertiannya yang pertama memberikan pemahaman akan arti objektif tentang masa lampau, dan hendaknya dipahami sebagai suatu aktualisasi atau sebagai peristiwa itu sendiri. Adapun pemahaman atas konsep kedua, sejarah menunjukkan maknanya yang subjektif, seebab masa lampau itutelah menjadi sebuah kisah atau cerita. Subjektivitas di dalam proses pengisahan itu, antara lain, terdapat kesan yang disarankan oleh sejarawan berdasarkan pengalaman dan lingkungan pergaulannya yang menyatu dengan gagasan tentang peristiwa sejarah.
Melalui  pendekatan ini, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Pendekatan sejarah ini amat diperlukan dalam memahami agama karena agama itu turun dalam situasi konkret, bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam menurut pendekatan sejarah ketika ia mempelajari Al Qur’an sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Al Qur’an itu  terbagi menjadi dua bagian, yaitu; konsep dan kisah sejarah atau perumpamaan.
Pendekatan historis ini adalah suatu pandangan umum tentang pandangan metode pengajaran secara suksesif sejak dulu sampai sekarang dan akan diiringi secara sepintas lalu mengenai problematik metodologi itu. Menurut Kuntowijoyo, sejarah bersifat empiris sedangkan agama bersifat normatif. Sejarah itu empiris karena bersandar pada pengalaman manusia. Sedangkan ilmu agama dikatakan normatif bukan berarti tidak ada unsur empirisnya, melainkan normatiflah yang menjadi rujukan.
Apabila sejarah digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk studi islam, maka aneka ragam peristiwa keagamaan pada masa lampau umatnya akan dapat dibidik. Sebab sejarah sebagai suatu pendekatan dan metodologi akan dapat mengembangkan pemahaman berbagai gejala dalam dimensi waktu, dalam hal ini aspek kronologis merupakan ciri khas dalam mengungkap suatu gejala keagamaan. Konsekuensi pendekatan sejarah di dalam penelitian agama haruslah dilihat segi prosesual, perubahan, dan aspek diakronis.  
Jika pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan gejala-gejala agama dengan menelusuri sumber di masa silam, maka pendekatan ini bisa didasarkan kepada personal historis atau atas perkembangan kebudayaan pemeluknya. Pendekatan semacam ini berusaha untuk menelusuri awal perkembangan tokoh keagamaan secara individual, untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan perilaku keagamaan sesuai dialog dengan dunia sekitarnya, serta mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat. Pendekatan sejarah pada akhirnya akan membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok-kelompok keagamaan. 

I. Pendekatan Psikologis
Psikologis adalah ilmu jiwa yang menyelididki tentang keadaan jiwa seseorang berdasarkan cara pikir, tindakan serta perilaku orang tersebut. Psikologi secar harfiah berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi ringkasnya, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan perbuatan individu yang tidak dapat terlepas dengan lingkungannya.
Pendekatan yang digunakan dalam membangun psikologi islam meliputi tiga aspek, yaitu :
•Aspek skriptualistis, yaitu pendekatan pengkajian islam yang didasarkan pada teks Al Qur’an dan hadits secara literal.
•Aspek filosofis, yaitu pendekatan pengkajian psikologi islam yang didasarkan atas prosedur berfikir spekulatif.
•Asas sufistik tasawuf, yaitu pendekatan pengkajian psikologi islam yang didasarkan pada prosedur intuitif, ilham, dan cita rasa.
Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan uasianya. Dengan ilmu agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya.
Menurut Zakiah Daradjat, perilaku seseorang yang tampak lahiriah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Ilmu jiwa agama sebagaimana yang dikemukakan Zakiah Daradjat, tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya.

J. Pendekatan Sosial-Budaya
Budaya adalah pikiran dan akal budi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,kebudayaan adalah sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan kegiatan batin untuk menciptakan sesuatu. Kebudayaan juga diartikan sebagai hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimiliki.
Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada data dan empirisnya atau agama yang tampil dalam bentuk  formal di masyarakat. Agama yang tampil dalam bentuk tersebut berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Melalui pemahaman terhadap kebudayaan tersebut kita dapat  memahami ajaran agama tersebut.

K. Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dalam tata kehidupan bersama. Pusat perhatiannya adalah kehidupan kelompok dan tingkah laku sosial. Sosiologi didefinisikan secara luas sebagai  bidang penelitian yang tujuannya meningkatkan pengetahuan melalui pengamatan dasar manusia, kebiasaan-kebiasaan, ritual-ritual, dan pola organisasi serta hukum-hukumnya.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan, serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Asumsi dasar pendekatan sosiologi terhadap agama adalah bahwa gejala-gejala keagamaan dapat dimengerti dengan menganalisisnya sebagai gejala sosial, sebagai sesuatu yang tercipta dalam hubungan antara manusia, dan karenanya dapat dijelaskan dengan menggunakan terori-teori yang berlaku dalam ilmu sosial. Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dan ilmu sosiologi.
Jalaluddin Rahmat dalam bukunya yang berjudul Islam Alternatif, menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut :
•Pertama, dalam Alquran atau kitab-kitab hadis, proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Ayatullah Khomaeni dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahmat, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus – untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah (masalah sosial).

•Kedua, bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam Islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusanmuamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.
 
•Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Karena itu shalat yang dilakukan secara berjemaah dinilai lebih tinggi nilainya daripada shalat yang dikerjakan sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
 
•Keempat, dalam Islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya(tembusannya) adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
 
•Kelima, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah. 

Pendekatan sosiologis dibedakan dari pendekatan studi agama lainnya karena fokus perhatiannya pada interaksi antara agama dan masyarakat. Teori sosiologis tentang watak agama serta kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong di tetapkannya serangkaian kategori-kategori sosiologis, meliputi:
•Stratifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas.
•Kategori biososial, seperti seks, gender, perkawinan, keluarga, masa kanak-kanak, dan usia.
•Pola organisasi sosial meliputi politik, produksi ekonomis, sistem pertukaran, dan birokrasi.
•Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan, dan globalisasi. 
 
Proses bagaimanapun tentang agama tidak pernah tuntas tanpa mengikutsertakan aspek-aspek sosiologinya. Agama yang menyangkut kepercayaan serta berbagai praktiknya benar-benar merupakan masalah sosial dan sampai saat ini senantiasa ditemukan dalam setiap masyarakat. Agama telah dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia, sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian bagi individu sebagai sesuatu yang memuliakan dan membela manusia yang beradab.
Pendekatan sosiologis  memiliki makna yang sangat penting dalam konteks studi islam. Berbagai dinamika dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat memerlukan telaah dan penelitan secara memadai. Dengan bantuan pendekatan sosiologis, dapat diungkap berbagai karakteristik, kekayaan khazanah, dan deskiripsi yang unik dari komunitas muslim di berbagai tempat.

L. Pendekatan Teologis
Hubungan antara teologi dan studi keagamaan sangatlah kompleks, dan sulit untuk memabahas topik ini, karena menurut sebagian orang “pendekatan teologis dalam studi agama” bersifat meragukan bahkan debatable. Pendekatan teologis memfokuskan pada sejumlah konsep khususnya yang didasarkan pada ide theos-logos, studi atau pengetahuan tentang Tuhan. Teologi adalah pembahasan materi tentang eksistensi Tuhan dan tuhan-tuhan dalam dalam sebuah konsep nilai-nilai ketuhanan yang terkontruksi dengan baik sehingga pada akhirnya menjadi sebuah agama/aliran kepercayaan.
Teologi sering berpusat pada doktrin. Dalam pendekatan teologis memahami agama adalah pendekatan yang menekankan bentuk formal simbol-simbol keagamaan, mengklaim sebagai agama yang paling benar, yang lainnya salah sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, kafir, sesat, dan murtad.
Pendekatan teologis dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup, tidak ada dialog yang saling menyalahkan dan mengkafirkan, yang ada pada akhirnya terjadi pembagian-pembagian umat, tidak ada kerja sama dan tidak terlihat adanya kepedulian sosial. Melalui pendekatan teologis ini agama dapat menjadi buta terhadap masalah-masalah sosial cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna.
Pendekatan teologis juga erat kaitannya dengan ajaran pokok dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penularan pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan, tidak ada keraguan sedikitpun dan tampak bersikap ideal. Dalam kaitan ini agama tampil prima dengan seperangkat ciri yang khas.
Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan sudah pasti benar sehingga tidak perlu dipertanyakan terlebih dahulu, melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi. Pendekatan teologis tersebut menunjukkan adanya kekurangan yang antara lain bersifat ekslusif, dogmatis, tidak mau mengakui kebenaran agama lain. Sedangkan kelebihannya melalui pendekatan teologis normatif ini seseorang akan memiliki sikap militansi dalam beragama, yakni berpegang teguh kepada agama yang diyakininya sebagai yang benar, tanpa memandang dan meremehkan agama lainnya. Dengan pendekatan yang demikian seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya. Secara ringkas, pendekatan  teologi dibagi menjadi tiga, yaitu :
•Normatif/Apologis
Pendekatan Teologi Normatif adalah sebuah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang menimbulkan keyakinan bahwa agama yang dianutnya dianggap paling benar dibandingkan yang lain.
 
•Teologi Dialogis
Pendekatan Teologi Dialogis adalah mengkaji agama tertentu dengan menggunakan perspektif agama lain. Teologi ini bertolak dari perspektif teologi kristen. Bahkan banyak digunakan orientalis dalam mengkaji Islam.
 
•Teologi Konvergensi
Pendekatan Teologi Konvergensi adalah metode pendekatan terhadap agama dengan melihat unsur-unsur persamaan dari masing-masing agama/aliran, untuk mempersatukan unsur esensial dalam agama-agama sehingga tidak nampak perbedaan yang esensial.
 
Di akhir ulasan tentang hubungan antara teologi dengan studi keagamaan, dan pendekatan teologis dalam studi agama ini, dinyatakan bahwa tujuan hubungan dan pendekatan  ini adalah memahami agama, memahami sistem konseptual agama,memahami berbagai pendekatan teologis yang diterapkan tradisi keagamaan terhadap agama-agama lain. 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.Yang dimaksud dengan pendekatan dalam konteks studi islam adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.

2.Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh berkembang dimasyarakat. Melalui perndekatan ini agama tamapak lebih akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.
 
3.Pendekatan feminis dalam studi agama tidak lain merupakan suatu transformasi kritis dari perspektif teoretis yang ada dengan menggunakan gender sebagai kategori analisis utamanya.
 
4.Dalam konteks studi agama, pendekatan fenomenologi tidak bermaksud untuk memperbandingkan agama-agama sebagai satuan-satuan besar, melainkan menarik fakta dan fenomena yang sama yang dijumpai dalam agama yang berlainan, mengumpulkan dan mempelajarinya per kelompok.  Pada intinya ada tiga tugas yang harus dipikul oleh fenomenologi agama, yatu: pertama, mencari hakikat ketuhanan. Kedua, menjelaskan teori wahyu. Dan ketiga, meneliti tingkah laku keagamaan.
 
5.Tampaknya penelitian agama memang tidak dapat dipisahkan dari aspek bahasa, karena manusia adalah makhluk berbahasa sedangkan doktrin agama dipahami, dihayati dan disosialisasikan melalui bahasa. Istilah bahasa agama menunjuk pada tiga macam bidang kajian dan wacana. Pertama, ungkapan-ungkapan  yang digunakan untuk menjelaskan obyek pemikiran yang bersifat metafisi, terutama tentang Tuhan. Kedua, bahasa kitab suci terutama bahasa Al-Qur'an dan Ketiga  bahasa ritual keagamaan.
 
6.Suatu pendekatan filosofis terhadap agama merefleksikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pengalaman keagamaan prateologis dan dalam wacana keyakinan, pendedakatan ini sangat erat kaitannya dengan filsafat. Keterkaitan antara keduanya terfokus pada rasionalitas, kita dapat menyatakan bahwa suatu pendekatan filosofis terhadap agama adalah suatu proses rasional. Pada akhirnya, tujuan berbagai pendekatan filosofis dalam studi agama adalah memberikan perangkat-perangkat berfikir tentang sesuatu dan berbincang-bincang dengan orang lain.
 
7.Dalam konteks studi islam, hermeneutik biasanya dipahami sebagai sebentuk ilmu tafsir yang mendalam bercorak filosofis. Contoh pendekatan hermeneutik dalam studi islam adalah analisis operasional hermeneutik dalam Tafsir Al Manar karya Muhammad Abduh dan Tafsir Al Azhar karya Hamka yang dilakukan oleh Fakhruddin Faiz. Pendekatan hermeneutik ini nampaknya sedang banyak diminati dan dikembangkan dalam studi islam. Walaupun pendekatan ini tidak diterima oleh seluruh kalangan islam, sebab ada yang melarang, bahkan mengharamkan penggunaan hermeneutik.
 
8.Pendekatan sejarah ini amat diperlukan dalam memahami agama karena agama itu turun dalam situasi konkret, bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Apabila sejarah digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk studi islam, maka aneka ragam peristiwa keagamaan pada masa lampau umatnya akan dapat dibidik.
 
9.Psikologis adalah ilmu jiwa yang menyelididki tentang keadaan jiwa seseorang berdasarkan cara pikir, tindakan serta perilaku orang tersebut. Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan uasianya.
 
10.Kebudayaan diartikan sebagai hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimiliki. Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada data dan empirisnya atau agama yang tampil dalam bentuk formal di masyarakat. Agama yang tampil dalam bentuk tersebut berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat.
 
11.Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dalam tata kehidupan bersama. Selanjutnya, sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dan ilmu sosiologi. Pendekatan sosiologis memiliki makna yang sangat penting dalam konteks studi islam. Berbagai dinamika dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat  memerlukan telaah dan penelitan secara memadai. Dengan bantuan pendekatan sosiologis, dapat diungkap berbagai karakteristik, kekayaan khazanah, dan deskiripsi yang unik dari komunitas muslim di berbagai tempat.
 
12.Pendekatan teologis memfokuskan pada sejumlah konsep khususnya yang didasarkan pada ide theos-logos, studi atau pengetahuan tentang Tuhan. Teologi sering berpusat pada doktrin. Dalam pendekatan teologis memahami agama adalah pendekatan yang menekankan bentuk formal simbol-simbol keagamaan, mengklaim sebagai agama yang paling benar, yang lainnya salah sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, kafir, sesat, dan murtad. Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari Tuhan sudah pasti benar sehingga tidak perlu dipertanyakan terlebih dahulu, melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.

B. Saran
Studi ini merupakan studi yang dangkal mengenai pendekatan dalam memahami agama islam. Untuk itu disarankan kepada para akademisi untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap persoalan tersebut. Pada tatanan praktis  disarankan kepada para generasi muslim cerdas, agar memperkaya ilmu tentang agama islam.


DAFTAR PUSTAKA
 
Abbudin,Nata. Metode Studi Islam. Jakarta: Raja grafindo persada,  2004
Abdullah, Taufik dan Karim, Rusli. Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar.Yogyakarta: Tiara Wacana Yogyakarta, 1990.
Abdullah, Yatimin. Studi Islam Kontemporer. Jakarta: Amzah, 2006.
Abdurrahman, Dudung. Pendekatan Sejarah.
Conolly, Peter.  Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: Lkis, 2002.
Daradjat, Zakiah. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta:  Bulan Bintang, 1996.
Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
E. Sumaryono. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama, Sebuah Kajian. Jakarta: Paramadina, 1996.
Koentjaraningrat, Budi Santoso. Kamus Istilah Antropologi. Jakarta: Balai Pustaka, 1978/1979.
Mudzahar, Atho. Pendekatan Studi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar , 2007.
Mujadid Abdul Munif. Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Naim, Ngainun. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta:Teras, 2009.
Sayyed Hosein Nasr. Islamic Studies: Essays on Law and Society, the Science, and Philophy and Sufism. Beirut: Librairie Du Liban, 1967.

Jumat, 07 Februari 2014

Makalah Kerajaan Turki Usmani

Kumpulan Makalah-Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan dan menyusun makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul “ Kerajaan  Turki Usmani “. semoga makalah ini bisa membantu para pembaca dan pelajar.

Daftar isi
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang masalah
Rumusan masalah
BAB II PEMBAHASAN
A.Latar belakang berdirinya Kerajaan Turki Usmani dan perkembangan Islam  pada masa Turki Usmani
B.Pemimpin-pemimpin kerajaan Turki Usmani dan masa periodenya
C.Kemajuan terpenting dalam berbagai bidang di Kerajaan Turki Usmani
D.Faktor-faktor yang menyebabkan mundurnya Kerajaan Turki Usmani
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

A.LATAR BELAKANG
Sejarah islam sekarang telah berjalan lebih dari empat belas abad lamanya. Sebagaimana hanya sejarah setiap umat, sejarah islam pun mengalami pasang surut. Pada periode tertentu islam mengalami pertumbuhan dan perkembangan, pada periode selanjutnya Islam mengalami kemajuan dan kejayaan dan pada periode lain islam mengalami kemunduran bahkan kehancuraan.
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dalam peradaban islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu.
Keadaan politik umat Islam  secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar : Usmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani,disamping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.
Makalah ini berusaha memaparkan kembali  sejarah peradaban Islam masa Turki Usmani yang penuh dengan suasana politik, makalah ini akan berusaha menjelaskan bagaimana latar belakang kerajaan Turki Usmani berdiri dan perkembangan Islam pada Masa Turki Usmani, bagaimana sikap kepemimpinan pada raja-raja Kerajaan Turki Usmani dan keberhasilan yang dicapai, kemajuan serta runtuhnya Kerajaan Turki Usmani.
Rumusan masalah
1.Bagaimana latar belakang berdirinya Kerajaan Turki Usmani dan perkembangan Islam pada masa Turki Usmani?
2.Siapa saja pemimpin-pemimpin kerajaan Turki Usmani dan masa periodenya?
3.Apa saja kemajuan terpenting dalam bidang-bidang kerajaan Turki Usmani?
4.Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan mundurnya kerajaan Turki Usmani?

B.PEMBAHASAN
1.Latar belakang berdirinya kerajaan Turki Usmani dan perkembangan Islam pada masa Turki Usmani
Hamka mengemukakan bahwa nama kerjaan Turki Usmani diambil dan dibangsakan kepada nenek moyang mereka yang pertama, Sultan Utsmani Ibnu Sauji Ibnu Orthogul Ibnu Sulaiman Syah Ibnu Kia Alp, kepala Kabilah Kab di Asia Tengah. Turki Usmani berkuasa sejak abad ke-13 sampai abad ke 19. (Didin Saepudin, 2007 : 248)
Lahirnya kerajaan turki Usmani adalah warisan kepemimpinan Erthrogul ke anaknya Usman. Usman memproklamirkan kemerdekaan atas daerah yang diduduki setelah kerajaan Saljuk terpecah-pecah akibat serangan dari bangsa Mongol. Sebelum itu, bangsa Turki dari khabilah oghuz dibawah pimpinan Erthogrul menetap di Asia Tengah dibawah serangan-serangan bangsa Mongol. Pada abad ke-13 bangsa Turki dari khabilah oghuz melarikan diri ke Asia kecil (Bangsa Turki Saljuk) dibawah pimpinan Al-Thugril dan mengabdikan diri kepada Sultan Aliudin II. Kemunculan bangsa Turki dari khabilah oghuz membantu Sultan Saljuk memenangkan perang melawan Bizantium. Atas kemenangan tersebut, mereka dihadiahkan sebidang tanah di Asia kecil berbatasan dengan Bizantium.
Kerajaan Turki Usmani muncul ketika Islam mengalami masa kemunduran ditandai dengan jatuhnya Abbasiyah di Baghdad. Namun, Turki Usmani dikatakan sebagai kerjaan yang paling berpengaruh dan membangkitkan peradaban Islam setelah kemunduran Islam. Kerajaan Turki Usmani berlangsung selama enam abad sekaligus menjadi kekuatan Islam paling besar kala itu.
Sejarah Turki Usmani tidak bisa lepas dari persentuhan dengan barat. Momentum pertama kontak antara Turki dengan dunia barat ialah jatuhnya kota Konstatinopel, ibukota Bizantium ketangan pasukan Turki dibawah pimpinan Sultan Muhammad II Al-Fatih pada tahun 1453. Inilah titik awal massa keemasan Turki Usmani, yang terus cemerlang hingga abad ke-18 sebelum akhirnya jatuh karena ekspansi barat dalam merebut wilayah kekuasaan Turki dan berkembangnya ideology yang terus menggerogoti kerajaan Turki Usmani.
Perang dunia ke-1 abad ke 19 melahirkan gerakan Turki muda yang terjadi ketika kolonialisme barat menguasai wilayah Turki. Ide-ide barat mulai masuk dalam aspek  mencari format pemerintahan yang konstutisional hingga Mustafa Kemal Attaturk menggagas nasionalisme demi memerdekakan Turki dari ekspansi Barat. Memang biacar tentang Turki tidak bisa terlepas dari founding father Turki modern. Mustafa Kemal Attatruk beliau mendirikan Negara Republik Turki diatas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Usmani dengan prinsip pembaharuannya Westwenelisme, Sekularisme, dan Nasioalisme.
Perlu dipahami, Sekulerisasi yang dijalankan oleh Mustafa Kemal tidak sampai menghilangkan agama. Sekulerisasinya berpusat pada kekuasaan golongan ulama dalam soal negara dan dalam soal politik. Yang pertama ditentangnya adalah ide negara Islam dan pembentukan negara Islam. Negara mesti dipisahkan dari agama. Namun, negara tetap menjamin kebebasan beragama bagi rakyat.
Terlepas dari sikap kemal Attaturk yang menelanjangi simbol-simbol islam, sebenarnya ia tidaklah bermaksud menyirnakan Islam dari masyarakat Turki, yang mereka kehendaki adalah de-ideology Islam, yaitu memisahkan kekuasaan (lembaga) Isalam dari bidang politik dan pemerintahan. Sebab ideologisasi Islam yang pernah dikembangkan penguasa Turki Usmani dan mampu mengantarkan Turki Usmani pada puncak kejayaannya dinilai pada pembeharu Turki tidak cukup efektif lagi untuk mendongkrak kelumpuhan Turki Usmani dalam menghadapi barat. Oleh karena itu, langkah ini adalah langkah terbaik yang dapat mereka tempuh dalam rangka mengembalikan kejayaan Islam di Turki.

2.Pemimpin-pemimpin Kerajaan Turki Usmani dan masa periodenya
Periode pertama  (1299 M-1422 M)
Dimulai dengan awal berdirinya perluasan pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur Lenk. Pada periode ini sultannya adalah :
1.Usman (1300 M-1326 M)
Usman adalah pendiri kerajaan Turki Usmani. Ia mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300M). Iya banyak berjasa kepada Sultan Aliuddin II dengan kebehasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317 M, dan pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibukota kerajaan.
2.Orkhan (1326 M-1359 M)
Menaklukan Azmir (Smirna)1327 M. Thawalyani 1330 M, Uskandar 1338 M, Ankara 1354 M, dan Gallipoli 1356 M. Daerah ini bagian benua Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani.
3.Murad I (1359 M-1389 M)
Ia memantapkan keamanan dalam negeri dan ia melakukan perluasan daerah kebenua Eropa. Ia dapat menaklukan Andrinopel (dijadikan sebagai ibukota kerajaan baru), Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Pada saat kepemimpinan Murad I Paus merasa cemas karena kemajuan ekspansi ke wilayah Eropa sangat berkembang sangat pesat. Oleh karena itu Paus mengobarkan semangat perang untuk menghancurkan Turki Usmani. 
4.Sultan Bayazid I (1389 M-1403 M)
Sultan Bayazid I pengganti Murad satu,ia melanjutkan perjuangan Murad I untuk bisa melawan pasukan kristen Paus. Dan akhirnya bisa menaklukan pasukan sekutu kristen tersebut dan peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.
Periode kedua (1403 M-1566 M)
(ditandai dengan restorisasi kerajaan percepatan pertumbuhan serta perluasannya yang terbesar). Pada periode ini sultannya adalah :
1.Muhammad I (1403 M-1421 M)
Dapat menyatukan Turki Usmani kembali karena setelah meninggalnya Sultan Bayazid I Turki Usmani mengalami kemunduran karena disini putranya saling berebut kekuasaan dan saling terjadi pertikaian. Dan Muhammad I juga berhasil mengambil wilayah yang sempat di ambil oleh Timur Lenk.
2.Murad II ( 1421 M-1451 M)
Dipandang Eropa sebagai penguasa yang tidak berbahaya karena usianya yang masih sangat muda, dan ia terlebih dahulu melakukan konsolodasi kedalam sebelum melakukan perluasan wilayah.
3.Sultan Muhammad Ali Fath (1451 M-1512M)
Dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Konstatinopel tahun 1453 M. Dengan terbukanya Konstatinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Bizantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa.
4.Sultan Salim I (1512 M-1520 M)
Sultan Salim memiliki kemampuan memerintah dalam memimpin peperangan. Ia mengalihkan perhatian ketimur dengan menaklukan Persia, Syiria, dan Dinasti Mamalik di Mesir.
5.Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520 M-1566 M)
Daerah ekspansinya Asia kecil, Armenia, Irak, Syria, Hejaz, dan Yaman di Asia, Mesir, Libya, Tunis, dan Aljazair di Afrika, Bulgaria, Yunani, Yogoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.Setelah Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putranya, yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meskipun terus mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini memang masih bertahan lima abad lagi setelah itu. (Yatim Badri, 2008 : 130-133)

3.Kemajuan terpenting dalam bidang-bidang kerajaan Turki Usmani
a.Kemajuan militer
Keberhasilan Khalifah Turki Usmani memperluas kekuasaan keberbagai wilayah yang begitu luas ditentukan oleh militernya yang tangguh. Kekuatan militer Turki terletak pada mesin perangnya bernama Jenissary dan inkisyariyah. Faktor utama yang mendorong kemajuan di bidang militer adalah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan.Untuk pertama kali, kekuatan militer kerajaan ini mulai di organisasi dengan baik dan teratur ketika  terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur yang besar sudah terorganisasi. Pengoranisasian yang baik, taktik, dan strategi tempur militer Usmani berlangsung tanpa halangan berati.
b.Bidang kebudayaan
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpadaun bermacam-macam kebudayaan, di antaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Orang-orang Turki Usmani  memang dikenal sebagai bangsa yang suka dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan menerima kebudayaan luar.
c.Bidang IPTEK
Kerjaaan Turki Usmani kurang berhasil dalam IPTEK disebabkan hanya mengutamakan kekuatan militer. Kemandegan ilmu pengetahuan dan teknologi Kerajaan Turki Usmani ada kaitannya dengan metode berpikir yang kolot dan tradisional, dikalangan ulama mereka cenderung menutup diri dari pengaruh kemajuan Eropa dan ini juga diakibatkan dengan menurunnya semangat berpikir bebas akibat pemahaman tasawuf.
d.Bidang keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerjaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga, fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat.
Yang tak kalah pentingnya dalam masalah keagamaan di Turki Usmani adalah perkembangan terekat. Nama terekat yang mengalami kemajuan adalah tarekat Bektasyi dan terekat Maulawi. Menariknya kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Terekat Bektasyi mempunyai pengaruh yang amat dominan di kalangan tentara Jenissary, sehingga mereka sering disebut sebagai tentara Bektasyi. Sementara terekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Jenissari Bektasyi. (Dedi Supriyadi, 2008: 167).
e.Kemajuan seni dan arsitektur
Kemajuan seni dan arsitektur dapat dilihat dari bangunan-bangunan besar yang bernilai artistik, terutama bangunan masjid. Salah satunya adalah masjid Aya Sophia yang dahulunya gereja. Masjid lainnya yang juga angat artistik adalah masjid Raya Sultan Muhammad Al-Fatih dan juga masjid Abu Ayyub al-Anshary. Masjid yang terkahir ini biasa digunakan sebagai tempat pelantikan sultan-sultan Usmani ysng baru. (Yatim Badri, 2008 : 133-137)

4.Faktor-faktor penyebab kemunduran Kerajaan Turki Usmani
1.Wilayah kekuasaan yang sangat luas
Administarsi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan kerjaan tidak beres. Dipihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas. Sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa.
2.Kelemahan para penguasa
Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, Kerajaan Usmani di perintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya.
Akibatnya pemerintahan menajdi kacau. Kekacauan ini tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin parah.
3.Pemberontakan tentara Jenissari
Kemajuan ekspansi Kerajaan Usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara Jenissari. Dengan demikian, dapat dibayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan tentara Jenissari terjadi ebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826 M.
4.Krisis ekonomi
Ketidaksetabilan politik Kerajaan Turki Usmani memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi negara. Akibat perang yang tak pernah berhenti, perokonomian merosot, pendapatan berkurang, sementara belanja negara sangat besar termasuk biaya perang.Krisis keuangan timbil sejak 1580 M yang disebabkam oleh perak Amerika yang berharga murah membanjiri kerajaan Usmani. Nilai mata uang menjadi turun dan harga barang menjadi naik. 
5.Perang yang berkesinambungan 
Perang yang berkesinambungan menyebabkan menelan banyak korban jiwa, dan harta benda yang tidak sedikit. Perang yang berkepanjangan ini juga selalu ditandai dengan kekalahan demi kekalahan dari pihak tentara Usmani, dan diakhiri dengan perjanjian-perjanjian yang sangat merugikan kerjaan Usmani.(Yatim Badri, 2008 : 167-168)

C.KESIMPULAN
Lahirnya kerajaan turki Usmani adalah warisan kepemimpinan Erthrogul ke anaknya Usman.Kerajaan Turki Usmani muncul ketika Islam mengalami masa kemunduran ditandai dengan jatuhnya Abbasiyah di Baghdad. Namun, Turki Usmani dikatakan sebagai kerjaan yang paling berpengaruh dan membangkitkan peradaban Islam setelah kemunduran Islam. Kerajaan Turki Usmani berlangsung selama enam abad sekaligus menjadi kekuatan Islam paling besar kala itu.
Sejarah Turki Usmani tidak bisa lepas dari persentuhan dengan barat. Momentum pertama kontak antara Turki dengan dunia barat ialah jatuhnya kota Konstatinopel, ibukota Bizantium ketangan pasukan Turki dibawah pimpinan Sultan Muhammad II Al-Fatih pada tahun 1453. Inilah titik awal massa keemasan Turki Usmani, yang terus cemerlang hingga abad ke-18 sebelum akhirnya jatuh karena ekspansi barat dalam merebut wilayah kekuasaan Turki dan berkembangnya ideology yang terus menggerogoti kerajaan Turki Usmani.
Pemimpin-pemimpin Kerajaaan Turki Usmani terbagi menjadi dua periode. Periode pertama adalah diimulai dengan awal berdirinya perluasan pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur Lenk dan periode kedua adalah ditandai dengan restorisasi kerajaan percepatan pertumbuhan serta perluasannya yang terbesar. Bidang-bidang terpenting yang mengalami kemajuan pada Kerajaan Turki Usmani adalah bidang militer, budaya, IPTEK, agama, seni dan arsitektur. Faktor penyebab runtuhnya adalah wilayah kekuasaan yang sangat luas, kelemahan para penguasa, pemberontakan tentara Jenissari, krisis ekonomi dan perang yang berkesinambungan. Kejayaan dan runtuhnya suatu kerjaan sangat di pengaruhi oleh pemimpinnya dan kekuatan militernya.

Daftar Pustaka
Badri, Yatim. 2008. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Saepudin, Didin. 2007. Sejarah Peradaban Islam. Cetakan I. Jakarta: UIN Jakarta
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.